Putuskan Hubungan Manusia
Iqamat usai dikumandangkan. Imam shalat langsung
meminta segenap jamaah shalat Maghrib di masjid dekat rumah kawanku itu segera
merapatkan dan merapikan barisan shalat. Sesaat berselang, sang imam mengangkat
kedua tangan sembari membaca takbir pertanda shalat mulai ditunaikan.
Beberapa saat kemudian, terdengar syahdu sang imam
membacakan surat Al Faatihah sampai berujung pada ucapan “aamiin”. Jamaah pun
langsung menyambut dengan “aamiin” dalam kebersamaan. Lalu, sang imam
melanjutkan membaca basmalah untuk memulai membaca surat berikut di rakaat
pertama itu. Belum tuntas bacaan basmalah sang imam, tiba-tiba ponsel salah satu
jamaah berdering nyaring dengan nada sebuah tembang yang sedang ngetrend.
Sontak, sang imam terdiam beberapa jenak, terasa
terganggu konsentrasinya. Kembali sang imam basmalah. Lalu berlanjut membaca
surat Al Bayyinah sebanyak delapan ayat. Dering ponsel salah satu jamaah
kembali terdengar. Sedikit riuh.
Kekhusyukanku sebagai salah satu jamaah jelas ikut
terganggu. Shalat berjamaah usai mentari tenggelam itu benar-benar jauh dari
khusyuk --penuh penyerahan dan kebulatan hati. Aku tak mengerti mengapa banyak
jamaah yang tetap mengaktifkan ponselnya saat shalat. Kadang ada menyetel
ponselnya cukup dengan getar. Tapi, itupun jelas masih tetap mengganggu
kekhusyukan. “Wah, jangan-jangan itu panggilan poryek besar,” seloroh seorang
anggota jamaah shalat yang suatu kali terganggu getar ponsel jamaah di
sampingnya.
Banyak masjid telah memasang peringatan agar
jamaah menon-aktifkan ponsel atau hp saat berada di dalam masjid. Masjid
merupakan tempat yang sangat diharapkan menjadi sarana bermunajat kepada Allah
SWT tanpa diganggu oleh apapun. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan
Bukhari-Muslim bahwa “Jika shalat telah didirikan (iqamat), maka takbirlah dan
kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari beberapa ayat Quran. Kemudian
rukuklah dengan rukuk yang sempurna dan angkatlah kepalamu hingga berdiri
lurus. Lalu sujudlah dengan sujud yang sempurna, lalu angkatlah kepalamu sampai
duduk yang sempurna. Lalu sujudlah dengan sujud yang sempurna. Kemudian
kerjakanlah hal semacam itu pada keseluruhan shalatmu.”
Hadist tersebut menampakkan pesan bahwa shalat
haruslah penuh penyerahan dan kebulatan hati, sungguh-sungguh dan penuh
kerendahan hari. Akibat adanya dering ponsel tentu sangat mengganggu derajat
shalat yang sungguh-sungguh khusyuk dan benar-benar kita tengah berdialog
dengan Allah SWT –bukan berbincang sesama manusia yang bisa saja kita lakukan
sembari menerima sambungan telepon.
Ada baiknya, begitu memasuki majis, kita putuskan
hubungan dengan sesama manusia dan hubungan-hubungan duniawi (termasuk lewat
ponsel). Tampaknya pengurus masjid tidak cukup lagi sebatas membuat imbauan
“Matikan HP saat berada di masjid”. Haruskah imbauan itu diganti dengan kata-kata
yang maknanya kurang-lebih “Putuskan Hubungan dengan Sesama Manusia”
sebagaimana banyak terpampang di masjid-masjid di Saudi Arabia? (BN)
Komentar
Posting Komentar