Rezeki Halal

Oleh Jarjani Usman
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)” (QS. Huud: 6).
Seorang suami terkejut mendengar keputusan isterinya.  Ia ingin pertimbangan suami tentang rencananya berhenti bekerja di sebuah kantor pemerintah.  Alasannya, batinnya tersiksa dan berontak karena setiap hari harus berhadapan dengan permainan uang haram.  Sangat susah menolaknya, karena bisa dianggap tidak menuruti tradisi di sana dan dicemoohkan.  Mengambilnya pun tidak tahu harus dibawa kemana.  Itulah yang membuat keputusannya berhenti, ia yakin rezeki berasal dari Allah.  Allah lah yang akan mencukupi segala kebutuhannya.
Kisah nyata itu menggambarkan bahwa masih ada hamba Allah di dunia ini yang berpegang teguh pada ajaran Islam meskipun hidup di zaman yang serba mementingkan materi ini.  Yaitu di zaman banyak orang berlomba-lomba memperebutkan harta, tanpa mau tahu status halal-haramnya.  Sebahagian memperebutkannya karena takut miskin.  Sebahagian lagi memperebutkannya untuk diwariskan kepada anak cucunya.  Sebahagian yang lain memperebutkannya karena hati tidak yakin Allah akan memberi rezeki untuknya dari cara yang halal.
Padahal telah jelas difahami bahwa rezeki berasal dari Allah.  Kita sebagai makhluk berpikir hanya disuruh berusaha untuk mencari segala karunia Allah, tentunya yang halal statusnya.  Dalam Alquran diperintahkan, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Komentar

Eramuslim