Majelis Taklim Pemersatu Umat

Majelis Taklim sebagai salah satu sarana pembinaan umat Islam di Indonesia harus bisa menjadi wadah pemersatu. Pesan ini khusus disampaikan Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis menyambut Muktamar VIII Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT).

Kiai Cholil mengatakan keberadaan majelis taklim yang terorganisir dalam BKMT hendaknya dapat menjadi pemersatu umat. Dengan begitu, masyarakat tak terpecah dengan adanya berbagai perbedaan pandangan furu'.

"Bagi masyarakat majelis taklim digunakan untuk silaturahim dan interaksi sosial, tentunya selain kegiatan utamanya adalah belajar," ujar dia saat dihubungi Republika, Rabu (9/3).

Menurut Kiai Cholil, majelis taklim pada dasarnya lahir dari perpaduan kreasi masyarakat, kebudayaan lokal, sekaligus menjadi sarana belajar ilmu agama. Di mata masyarakat, keberadaan majelis taklim identik dengan pengajian agama nonformal.

Di majelis taklim tak ada kurikulum yang baku. Pembelajaran dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang tergabung di majelis tersebut. Oleh karena itu, banyak majelis taklim tumbuh dengan mengusung tema tertentu, misalnya tafsir, fikih, dan akhlak.

Keberadaan majelis taklim saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat, khususnya di daerah perkotaan. Ada peningkatan kesadaran masyarakat yang tinggi terhadap ilmu agama, termasuk dalam pengamalan. Pada kalangan ini tumbuh kesadaran bahwa ada bagian-bagian yang belum sempat mereka dalami. Majelis taklim menjadi bagian dalam memenuhi kebutuhan ini.

Majelis taklim yang berkembang baru-baru ini tak hanya bicara ilmu agama secara saja. Menurut Kiai Cholil, pengajian yang ada acapkali menggabungkan ilmu agama dan kajian serta pemaknaan dari perspekti sains dan ilmiah. Di masa mendatang, majelis taklim diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat sesuai dengan zaman keterbukaan.

Pengelolaan majelis taklim yang terus menunjukkan perkembangan tak lepas dari kendala. Kiai Cholil mengatakan, tak semua guru yang mengisi majelis taklim memiliki ilmu agama yang mumpuni."Karena di Indonesia siapapun bisa jadi guru asal mau dan ada yang mau belajar (kepada)nya," ujar dia.

Kualifikasi guru yang tak berstandar berisiko menimbulkan paham yang salah dan menyimpang. Oleh karena itu, kata Kiai Cholil, masyarakat perlu lebih selektif dalam mengundang guru yang akan mengisi majelis taklim. Guru hendaknya mumpuni secara agama dan dapat menjadi teladan dalam kehidupan. "Selain itu, perlu ditetapkan kualifikasi guru mengaji di majelis taklim yang dapat diukur dalam bentuk skala," kata Kiai Cholil.

Kualitas intelektual masyarakat Indonesia yang terus membaik juga menuntut majelis taklim untuk senantiasa meningkatkan kualitas kurikulum. Kurikulum yang ada hendaknya selalu disempurnakan, sesuai dengan perkembangan zaman. Kurikulum itu juga harus disesuaikan dengan tingkat pengetahuan masyarakat yang mengaji.

Menurut Kiai Cholil, BKMT perlu memaksimalkan peran sebagai badan koordinasi antarmajelis taklim. Lembaga ini perlu memperluas jangkauan jangkauan majelis taklum dan memotori integrasi dakwah antara ucapan dan tindakan (qaul wal hal).

Selain mengkoordinasi penyelenggaraan majelis taklim di bidang keagamaan, perlu ada upaya untuk melakukan dakwah dengan tindakan nyata. Kiai Cholil menyarankan pemberdayaan ekonomi dan kepedulian sosial dapat menjadi salah satu contoh wujud nyata dakwah BKMT di masa mendatang. Dengan begitu, ajaran yang disampaikan di majelis taklim dapat dirasakan langsung oleh para anggota. "Dengan langkah ini, BKMT diharapkan menjadi lokomotif untuk membangun umat melalui kegiatan majelis taklim," papar dia.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Abdul Malik Fajar mengatakan, kehadiran BKMT mempunyai makna sangat besar bagi perkembangan keislaman dan syiar Islam. "Sangat terasakan. Ini sangat diharapkan untuk kepentingan dakwah," ujar mantan menteri agama ini kepada Republika, Senin (6/3) di Jakarta.

Malik mengatakan, saat ini peran BKMT dalam meningkatkan solidaritas majelis taklim sudah berjalan baik. Namun, sejalan dengan pendapat Kiai Cholil, BKMT perlu meningkatkan perannya agar lebih bermakna bagi pemberdayaan masyarakat, di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya, terutama bagi kaum ibu.

"Andaikata muktamar nanti bisa membuat ini lebih meningkat, artinya lebih produktif, tidak sekedar digelar di lapangan. Saya harap BKMT dapat berkembang sebagai gerakan yang lebih substantif," ujar dia.

Sekretaris Umum Persatuan Islam (Persis) Ustaz Irfan Syafrudin menambahkan, saat ini majelis taklim mengalami peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Secara kuantitas, majelis taklim melebarkan sayap tak hanya dari masjid ke masjid, namun juga institusi pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, dan sebagainya.

Secara kualitas, majelis taklim juga mengalami peningkatan mutu. Ini tampak dari semakin banyaknya majelis taklim yang memperdalam tema-tema tertentu. Tema yang diangkat juga terkait langsung dengan kebutuhan praktis masyarakat.

"Sekarang kan banyak majelis taklim yang membahas tentang waris, dikupas sampai habis. Tentang zakat sampai habis, kajian tafsir dari juz 30 atau dari juz pertama, dan sebagainya," kata Ustaz Irfan saat dihubungi Republika, Rabu (9/3).

Peningkatan ini di satu sisi menimbulkan dampak positif. Ini menunjukkan kepedulian tentang agama kini telah merambah ke berbagai lingkungan. Dampak negatifnya, kajian-kajian di masjid kini cenderung kurang diminati.

Ustaz Irfan menilai berkurangnya minat masyarakat terhadap kajian di masjid dan rumah-rumah menjadi tantangan tersendiri bagi Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT). Penyelenggaraan kajian yang monoton dianggap menjadi salah satu penyebab.

Melihat fenomena ini, Ustaz Irfan berharap BKMT kembali berperan untuk meningkatkan penyelenggaraan pengajian di masjid dan rumah-rumah. Adanya peningkatan kesadaran akan kebutuhan ruhani masyarakat hendaknya diimbangi dengan penyelenggaraan kajian yang menarik dan tidak monoton. "Dengan hidupnya majelis taklim, peran masjid sebagai pusat peradaban Islam diharapkan akan dapat ditingkatkan," tukasnya.   (http://www.republika.co.id/)

Komentar

Eramuslim