Baitul Maal BMT Indonesia; Program dan Karakter yang Harus Dimiliki

(Wawancara dengan Jamil Azzaini)  
 
Dalam mengembangkan ekonomi nasional atau global, BMT pada dasarnya adalah sebuah bentuk usaha yang paling ideal karena bisnis dan sosial menjadi satu kesatuan tak terpisah dan sesuai dengan prinsip syariah. Selain itu, BMT juga merupakan media dakwah ekonomi yang menjadi soko guru perekonomian untuk kesejahteraan umat.
Dalam perjalanannya, BMT lebih berkembang pada sisi bisnis daripada sosialnya sehingga baitul maal terkesan sebagai pelengkap. Padahal pada zaman nabi, baitul maal justru menjadi tonggak dalam menjamin kesejahteraan umat. Bagaimana mengembalikan ruh baitul maal dimasa kini? Berikut wawancara khusus Zubaeri At dari Tamaddun dengan Jamil Azzaini saat Silaturrahmi Nasional (Silatnas) Baitul Maal PBMT Indonesia di Jogjakarta.

Sejauhmana Bapak mengetahui tentang Baitul Maal PBMT Indonesia?
Era sekarang, kalau kepingin maju dan sukses tidak boleh berpikir hanya “aku”  tapi harus berpikir tentang “kita“. Menurut saya, PBMT itu adalah wujud berpikir tentang kita. Dalam berpikir, manusia memiliki empat cara berpikir. Pertama, aku yang punya mimpi berjuang untuk hidup. Kedua, aku yang terlatih dan terasah. Ketiga, berpikir tentang kita dan keempat, yang paling bagus adalah kita yang terkoneksi, kita yang terhubung dengan yang lain.

PBMT itu sudah masuk yang terakhir, yakni kita yang terkoneksi. Satu persoalan BMT dianggap sebagai persoalan bersama. Kini, era aku sudah berakhir, berganti dengan era Kita. PBMT itu adalah media kita.

PBMT memiliki mimpi Haluan BMT 2020, kira-kira bisa tidak diwujudkan?
Itu bisa, bila sudah dimulai dari sekarang. Era kita ini akan sampai kiamat. Orang yang berpikir hanya aku, aku dan aku atau orang berpikir yang penting BMT ku yang selamat dan berkembang, biarkan saja BMT orang lain. Cara berpikir tersebut sudah bukan masanya. Dan bila ada BMT yang berpikir tentang aku dan tidak berpikir terhadap yang BMT lain, maka BMT tersebut tidak akan sampai tahun 2020 sudah tutup.

Seberapa penting, adanya BMT dalam membangun ekonomi masyarakat?
Faktanya, ekonomi kita berpihak pada ekonomi menengah dan atas. Sedang BMT fokus pada mikro-kecil atau bahkan mikro saja. Sangat diperlukan, mengingat masyarakat mikro belum digarap oleh pemerintah. Miskipun sekarang, bank-bank sudah mulai masuk ke pasar tradisional. BMT masih dibutuhkan masyarakat.

Apa kontribusi BMT yang riil, dalam mengantisipasi ekonomi global ke depan?
Kalau ingin bertahan, menurut saya, BMT tidak hanya membina orang per orang, tetapi mereka didorong untuk membuat komunitas-komunitas agar tumbuh berkembang, karena memang era “kita” dan komunitas-komunitas itu sudah mulai muncul. Bila BMT masih mengelola individu-individu, energinya akan capek, habis tetapi hasilnya tidak signifikan.

Kita beri pembiayaan 10 juta, akan meningkat hanya sampai 12,5 juta. Secara inflasi juga tinggi. tetapi bila kita membangun komunitas-komunitas yang lebih solid, bisa jadi kontribusi pada BMT akan lebih bagus dan peran BMT terhadap masyarakat juga akan lebih luas. Seperti komunitas pasar Wonosobo, komunitas pasar Jogjakarata, antara satu dengan lainnya dapat saling komunikasi dan saling kontribusi. Selain itu, agar dapat menumbuhkan jiwa kita diantara mereka, tidak hanya berpikir tentang diri sendiri.

Dalam bahasa saya, yuk kita hidup sukses mulia. Kita berhasil dan keberadaan kita memberi manfaat. Dan itu bukan hanya milik BMT, tetapi juga masyarakat yang menjadi anggota BMT juga memiliki kesuksesan itu juga. Berhasil dan keberhasilannya memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Ada guyonan orang memandang BMT, “BMT Tamwilnya (bisnisnya) yang berjalan, sedang baitul maalnya (sosialnya) belum berjalan”. Menurut bapak, bagaimana agar baitul maal dan baitul tamwil bisa sejajar dalam pengembangan BMT?
Betul, memang ada BMT yang tumbuh besar, sehingga pola pelayanannya menjadi transaksional. Hitung-hitungan. Sedang baitul maal itu adalah sosial yang dianggap tidak memberi dampak pada BMT. Itu cara berpikir ekonomi sekarang. Padahal, BMT itu dikembangkan sesuai prinsip syariah, kalau kita berbagi, saling tolong menolong maka keberkahan itu akan ada. Dalam bahasa agama, barang siapa bersedekah, rizkinya berlimpah. Siapa yang peduli, rizkinya akan bertambah. Barangsiapa yang berbagi, maka kehidupannya akan berkah. Seharusnya itu yang diunggulkan, tentu dengan tetap mengedepankan pengelolaan profesional pada baitul maal.

Bukan karena untuk umat, kemudian dikelola dengan asal-asalan. Profesional itu bukan pada tingkat transaksional. Karena di maal kemudian digaji kecil, bukan seperti itu. Profesinoal dalam arti, harus ada target ini sebagai lembaga yang bisa dipercaya dan memberi manfaat yang besar bagi masyarakat hingga mati. Bukankah, pahala akan terus mengalir, ketika yang kita bantu dapat tumbuh berkembang di masyarakat. Anak dan cucunya juga ketibanan berkahnya.

Apa strategi yang harus dilakukan bagi lembaga baitul maal agar berkembang?
Tentu, harus memberi pemahaman bahwa ekonomi syariah itu berbagi. Sebagaiman pada zaman rasul, harta dibagi menjadi empat, sepertiga untuk disedekahkan, sepertiga untuk dibagi, sepertiga untuk melunasi Madinah yang memiliki hutang dan sepertitiga untuk mengembangkan bisnis. Sehingga BMT-BMT tidak menghitung secara kapitalis, dimana semua dihitung dengan logika manusia.

Padahal logika Allah itu berbeda dengan logika manusia. Satu tambah satu dalam matematika ada dua. Satu tambah satu dalam ilmu kreatifitas ada sebelas. Satu tambah satu dalam sholat adalah dua puluh tujuh. Tetapi satu tambah satu dalam sedekah itu berlimpah. Seharusnya itu harus ditanamkan dan ditumbuhkan.

Bagaimana ketika kita menghidup-hidupkan baitul maalnya, baituttamwilnya akan semakin berkah. Asal tidak pilih kasih, ini tamwil (bisnis) bisa membeli mobil, membangun gedung, dikelola dengan serius. Sedang, ketika mengelola baitul maal tidak serius. Seharusnya, mengelola sesuatu yang bisa diukur itu serius dan mengelola sesuatu yang tidak bisa diukur itu juga harus serius. Padahal dalam pengelolaan keduanya harusnya sama. Walaupun kontribusinya tidak terlihat.

Bagi pengelola baituttamwil, harus memahami bahwa ada tangible aset dan ada untangible aset. Ada aset yang terukur dan ada aset yang tidak bisa diukur oleh manusia, tapi berpengaruh. Orang yang hanya fokus pada tangible aset, BMT ini aset sekian, atau total aset yang dimiliki BMT sekian, katakan 100 milyar. Maka ketika dijual akan laku 100 milyar.

Tetapi bila di dalam BMT itu ada untangible aset, berupa nama baik, ada perjuangan, popularitas, sehat dan syariah misalnya, mungkin asetnya 100 miyar, mungkin kalau dijual akan laku 1 trilyun. Mengapa bisa besar? Karena ada faktor untangible aset yang besar. Makanya pegiat BMT harus ditanamkan untangible aset. Perlu diketahui, hidup ini tidak sekedar tangible aset, tapi juga ada unsur untangible aset. Seorang muslim terlihat baik, terlihat dari perilakunya. Tetapi untangible asetnya, apakah perbuatan tersebut terhubung dengan nilai kehambaan kepada Allah. Dan itu betul-betul ibadah kepada Allah. Itu semua adalah untangible aset.

Kita sebagai pegiat BMT seharusnya memandang bahwa antara tangible aset dengan untangible aset adalah sama pentingnya. Kadang dalam hal-hal tertentu untangible aset lebih penting.

Menurut Bapak, apa yang mesti dikembangkan dalam baitul maal (zakat, infak, sodaqah atau wakaf) agar stabilitas baitul maal bisa kuat atau bahkan bisa berkembang di tahun-tahun mendatang?
Kalau menurut saya sedekah, kalau zakat itu mentok 2,5 %. Infak paling 10%. Kalau wakaf sendiri masih perlu penyadaran, perlu edukasi pada masyarakat. Karena persepsi orang sekarang, yang namanya wakaf harus berupa aset yang nyata. Wakaf tunai belum berkembang. Kalaupun wakaf dikembangkan masih terjadi polemik.

Makanya, menurut saya, agar dapur baitul maal “mengebul” (berasap) dan berjalan, seharusnya baitul maal didorong untuk sedekah. Karena faktor di lapangan, banyak orang yang mengembangkan sedekah tumbuhnya lebih cepat dan pesat. Di Jogja misalnya, ada Sedekah Rombongan, dimana kurang lebih dua tahun sudah mencapai 2 milyar. Padahal tidak punya gedung, dan tidak punya administrasi yang formal, hanya memiliki jejaring sosial media, facebook, twiter dan lewat blog. Di Jakarta ada Makelar Sedekah.

Sekarang ini kesadaran sedekah mulai tumbuh terutama pada generasi-generasi  muda dan itu yang ditangkap dengan program-program yang tidak terlalu rumit, tapi berdampak. Berbeda dengan kita (baitul maal), kadang terlalu banyak konsep dan rumit. Programnya tidak jalan, operasionalnya menghabiskan lebih banyak. Kalau begitu, untuk apa adanya baitul maal. Sehingga teman-teman baitul maal harus memilih program yang cerdas dan diperlukan oleh masyarakat serta tidak terlalu rumit. Dan tidak banyak prosedur.

Apa kira-kira program yang bagus bagi baitul maal?
Masing-masing baitul maal punya kekhasan dan kebutuhan daerahnya masing-masing. Kebanyakan dari baitul maal itu kebanyakan tergoda ingin menangani baituttamwil, artinya melayani bisnis. Padahal baitul maal itu sosial. Orang di baitul maal itu mentalnya bukan bisnis, makanya jangan menjalani usaha-usaha bisnis. Yang terjadi pemberdayaannya tidak berjalan dan tidak berhasil.

Sedang kalau di tamwil, orang-orangnya sudah terbiasa dengan bisnis, analisanya bisnis, pendekatannya bisnis, anggota pasti lebih percaya. Kalau baitul maal mengadakan pemberdayaan ekonomi, yakinlah pada saya tidak akan berhasil. Karena baitul maal mentalnya sosial, mengajari bisnis. Dosen ngajari bisnis, ya susah. Kalau mau mengajari bisnis, ya pelaku bisnis.

Jadi, kalau membuat program harus disesuaikan dengan ruh baitul maalnya, seperti menolong orang, menjadi katalisator sebagai pengelola, fokus saja disitu. Tidak usah tergoda dengan program-program yang muluk-muluk tapi sulit untuk direalisasikan. Menurut saya, bila baitul maal di Indonesia mau memberdayakan ekonomi malalui bisnis akan susah mencari orang-orangnya. Mending menjalankan program-program yang pokok-pokok tapi berdampak.

Karakter seperti apa yang harus dimiliki oleh pegiat baitul maal?
Sebenarnya, baituttamwil dan baitul maal masing-masing mempunyai karakter sendiri-sendiri. Kalau orang baitul maal karakter yang harus dimiliki adalah orangnya kreatif, mempunyai daya tahan yang cukup kuat, dan senang berbagi. Secara umum kerangkanya begitu. Kalau tidak kreatif, program baitul maal akan sunatan masal terus. Berbagi sembako terus. Kalau gak punya daya tahan, kerja di baitul maal kok menjaga gengsi mana tahan. Kalau tidak senang berbagi, melayani orang, seolah-olah orang yang butuh kepada kita. Padahal orang baitul maal itu harus punya kesadaran bahwa dialah yang perlu masyarakat, bukan masyarakat yang perlu kepada dia. Ketika ketiga kesadaran hal diatas, dimiliki pegiat baitul maal, insya Allah baitul maal akan tumbuh kembang. [http://www.tamzis.com]  

Komentar

Eramuslim

Postingan Populer