Usaha Kubah Masjid, Bisnis Sambil Beramal
Kerja Profesional Suyanto
Apa yang digeluti seorang wirausahawan terkadang berbeda akar. Banyak
yang melenceng dari bidang ilmu yang didalaminya. Akhirnya hanya
pengalaman yang menjadi modal. Guru terbaik bagi kehidupan seorang
pengusaha. Suyanto jadi salah satu pengusaha yang mengalami hal itu,
seorang sarjana perikanan yang jadi pengusaha. Bukannya pengusaha
dibidang perikanan, malah pengusaha kubah masjid terus untunga hingga
punya banyak rumah kos- kosan.
Cerita awalnya hanya untuk amal, eh, usahanya mendapatkan banyak pesanan.
Pengusaha beramal
Dibesarkan oleh keluarga sederhana asal Demak, selepas sekolah menengah
atas, Suyanto harus kehilangan sang ayah. Sang kepala keluarga
meninggalkan ibu dan lima adik untuk dihidupi. Sebagai anak laki- laki
tertua, ia memang tidak berpangku tangan begitu saja. Tahun 1995,
Suyanto hijrah ke Jakarta mencari- cari penghidupan. Sambil bekerja tak
lupa ia pun melanjutkan sekolahnya, cari- cari beasiswa. Dia akhirnya
diterima di Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan.
Di Jakarta, sambil terus berkuliah, ia tak lupa membantu ibu dan adik-
adiknya. Ia lantas memilih menjadi kuli panggul di Pasar Kramat Jati.
Rutinitas itu dijalani Suyanto hingga tahun 1999 -an seiring dengan
kelulusannya. "Adik saya banyak, gaji pegawai negeri tentu tidak cukup.
Saya ke Brunei supaya dapat uang banyak," jelasnya.
Selama setahun di Brunei, sarjana perikanan ini bekerja sebagai sopir.
Pada tahun 2000, Suyanto akhirnya melamar ke sebuah perusahaan dan
berhasil menjadi kapten kapal perikanan bergaji besar. Dia menghasilkan
Rp 7 juta per- bulan. Namun, ia hanya bertahan dua tahun bekerja di
kapal. Dia pulang karena mendengar adik- adiknya tidak mau sekolah.
"Untuk apa saya bergaji besar kalau adik saya cuma jadi kernet.
"Tahun 2002, saya pulang dan mencoba mendampingi adik-adik," jelas pria kelahiran 19 Desember 1977 ini.
Jadi pegawai pengusaha
Di tahun yang sama, Suyanto memilih merantau kembali setelah menemui
keluarganya di kampung. Kali ini, ia ingin bekerja di Banjarmasin. "Saya
pikir, kerja di Kalimantan enak. Saya lihat, ada tetangga yang pulang
dari Kalimantan dan sukses," katanya. Hidup di Banjarmasin ternyata
tidak semudah yang dibayangkan olehnya. Ia sempat menjadi tukang ojek
dengan motor sewaan. Kemudian dia beralih profesi menjadi sopir untuk
selanjutnya.
Disaat menjadi sopir itulah Suyanto sering melihat proses pembuatan
masjid. Secara iseng, ia menawarkan diri untuk memasok kubah masjid.
Pertengahan tahun 2005, ia bekerja sambilan sebagai tenaga pemasar di
sebuah bank pemerintah. "Sambil mencari nasabah, kadang saya berjualan
sayuran sambil cari masjid yang membutuhkan kubah,"€ ujarnya. Ia yang
melihat kubah yang dipakai jelek. "Saya akan mencarikan kubah yang bagus
dari Jawa," tutur Suyanto.
Kebetulan memang ia mempunyai teman di daerah Pati yang menjadi perajin
kubah. Tindakannya bukan soal uang jelasnya lebih lanjut. Waktu itu
niatnya cuma membantu, soal untung tidaklah penting. Buktinya meski ia
sudah bisa mensuplai kubah; ia memilih untuk tetap bekerja. Sayangnya,
Tuhan bekerhendak lain, makin banyak saja orang meminta kubah darinya.
"Ternyata, tidak mudah untuk mendapatkan proyek itu. Saya harus
mempunyai dokumen-dokumen, surat izin usaha perdagangan (SIUP), dan
surat-surat lain,"€ kenangnya lagi. Dari peristiwa inilah, pada 2005,
ia memutuskan mendirikan bahan usaha berbentuk CV. Modal untuk usahanya
juga tak besar. Suyanto memilih menggunakan uang muka pengurusan masjid.
"Saya sudah mendapat kepercayaan, proyek itu memang saya dapatkan tapi harus dilengkapi surat-surat," jelasnya.
Sambil bekerja di CV miliknya Suyanto masih tercatat sebagai pegawai
bank milik negara itu. Dia bahkan berhasil menjadi salah satu pemasar
terbaik. Pada tahun 2007, dia direkrut bank swasta dan menduduki posisi
unit manajer. Peruntungan Suyanto pun terus datang, usaha maju sejalan
dengan kariernya bersinar. "€Å“Saya ditarik menjadi pegawai PT Permodalan
Madani Nasional," kata dia yang kini menjabat Wakil Kepala Cabang PNM
Banjarmasin. Untuk CV miliknya, Suyanto juga tak lepaskan, justru makin
bersinar saja.
Jika sebelumnya hanya sebagai pemasok kubah yang didatangkan dari Jawa.
Suyanto mulai berani membuat kubah masjid sendiri yakni berbahan
stainless steel, aluminium, dan galvalum ataupun baja ringan. Ia juga
mengembangkan usaha dengan membangun fondasi dan finishing bangunan
masjid (pemasangan gipsum, kaca hias, pengecatan), hingga perencanaan
pembuatan kubah masjid dalam berbagai bentuk. Tak cukup sampai di situ,
saat ini, Suyanto juga mengembangkan usaha rental mobil dan kos-kosan.
Saat ini, dia memiliki 100 kamar kos-kosan.
"Persaingan usaha makin ketat dan usaha semacam ini bisa saja mati. Sebab, sekarang banyak pengelola dan kontraktor masjid yang langsung membeli kubah ke Jawa," dalihnya. Suyanto juga sedang berupaya membangun sebuah bank perkreditan rakyat (BPR) bersama dua rekannya. "Saya ingin membantu orang yang butuh modal," tutupnya. (http://www.pengusaha.us)
Saat ini, dia memiliki 100 kamar kos-kosan.
"Persaingan usaha makin ketat dan usaha semacam ini bisa saja mati. Sebab, sekarang banyak pengelola dan kontraktor masjid yang langsung membeli kubah ke Jawa," dalihnya. Suyanto juga sedang berupaya membangun sebuah bank perkreditan rakyat (BPR) bersama dua rekannya. "Saya ingin membantu orang yang butuh modal," tutupnya. (http://www.pengusaha.us)
Komentar
Posting Komentar