Masjid Membentuk Manusia Unggul


Oleh : Ismu Ridha, S. THPenulis adalah mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, kini menjabat Ketua BKPRMI Indrapuri
peran masjid di aceh
Julukan “negeri seribu satu menara” boleh saja disematkan kepada Aceh. Penduduknya yang mayoritas Muslim menjadi alasan utama  pendorong percepatan pertumbuhan jumlah masjid. Tidak kurang dari 3.745 masjid telah berdiri kokoh nan megah di negeri syari’at ini. (lih. Data BPS, Aceh Dalam Angka, Katalog BPS: 1102001.11). Jumlah tersebut belum lagi ditambah dengan kehadiran Meunasah yang tak terhitung jumlahnya. Artinya, kini keberadaan masjid secara kuantitas dan fisikal jauh lebih hebat dibandingkan tempoe doloe. Hal tersebut sejatinya cukup membanggakan dan menggembirakan, sebab sosoknya yang sangat strategis bagi masyarakat Aceh.
Namun demikian, eksistensinya yang luar biasa tersebut belum mampu memberikan kontribusi yang layak terhadap Aceh. Wujuduhu ka‘adamihi, demikian ungkapan untuk menggambarkan sesuatu yang ada namun tidak mampu memberikan nilai yang lebih. Masjid dengan segala kemewahan dan kemegahannya juga belum mampu menghipnotis masyarakat untuk berlama-lama dan merasakan ketenangan didalamnya. Yang lebih aneh lagi, sebagian masjid ‘terpaksa’ mengunci rapat pintunya dan baru terlihat ‘hidup’ pada waktu-waktu tertentu serta dalam wujud seremonial dan agenda tahunan saja.
Oleh sebab itu, dalam konteks mengembalikan kemakmuran Aceh dan masyarakatnya, memakmurkan masjid sebagaimana fungsinya yakni sebagai pusat pembinaan masyarakat menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan kalau tidak berlebihan, hal tersebut semestinya kita jadikan sebagai titik tolak untuk mencapai kembali kejayaan Aceh. Jika tidak justru akan melahirkan sosok yang cerdas secara intelektualitas tapi  ‘kering’ secara kejiwaan. Satu sisi masyarakat Aceh mampu mengukir prestasi akademisi membanggakan, pada sisi lainnya angka kejahatan justru terus meningkat.
Meskipun wacana pemberdayaan dan pendayagunaan mesjid sudah lama diopinikan, secara umum harapan tersebut belumlah terwujud.
Kenapa Harus Masjid? Kini motto back to mosque jangan hanya menjadi slogan belaka, namun mampu diimplementasikan dalam wujud nyata secara serius. Sebab pertama, keberadaanya yang hampir merata dan strategis menjadikannya sebagai basis terdekat dan termudah yang dimiliki masyarakat Aceh.
Kedua, misi masjid bukan sekedar hayya ‘ala ash-shalah, tapi juga hayya ‘ala al-falah, sebuah seruan agung menuju kejayaan dan kemenangan hakiki. Ketiga, jika dikomparasikan dengan beberapa tempat lainnya, masjid adalah tempat yang paling sering dikunjungi masyarakat,  setidaknya lima kali dalam sehari. Singkatnya, Aceh memiliki power dan kesempatan luar biasa untuk mencetak masyarakat unggul.
Jika diibaratkan, masjid bagi masyarakat Aceh laksana air bagi ikan. Ikan tidak akan bertahan lama dalam hidupnya jika dipisahkan dari air. Begitu pula dengan masyarakat Aceh, kehidupannya tidak akan kokoh dan berkah jika mengasingkan diri dari rumah Allah. Bentuk Manusia Unggul Masjid, sebagaimana asal katanya yang bermakna patuh, taat dan tunduk dengan penuh hormat, maka hakikat masjid sejatinya adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Dari pengertian tersebut, tampak bagaimana masjid memberikan atensi yang seimbang (balance) terhadap jiwa melalui ketaatan kepada-Nya, sekaligus memberikan atensi terhadap  kebutuhan jasmani melalui variasi aktivitas yang diselenggarakan dalamnya.
Keseimbangan tersebut adalah sebuah nilai plus yang harus dioptimalkan. Karenanya, dengan gaya dan tampilan yang lebih segar, agenda  dakwah dan ‘proyek’ keilmuan berbasis masjid harus digalakkan. Ud’u ila sabili rabbika bil hikmah wal mauidhatil hasanah adalah metode  tepat. Dalam artian, metode yang mengedepankan kemashlahatan sebagai upaya menyentuh sisi kejiwaan masyarakat.
Masjid sejatinya menjadi ‘pasar’ ilmu bagi seluruh elemen masyarakat. Sebagaimana layaknya pasar, digalakkan di dalamnya berbagai agenda keilmuan dengan menggunakan metode yangacceptable serta sesuai dengan kapasitas (qudrah) masyarakat. Anak-anak misalnya, bagi mereka ditawarkan pendidikan berbasis games yang menghibur, menarik dan menantang, namun tetap mendidik. Permainan ‘lacak tokoh’ dalam dunia sejarah adalah salah satu metode pendidikan yang merangkum maksud tersebut. Demikian halnya bagi kaum muda, melalui masjid  diselenggarakan berbagai seminar, pelatihan, forum debat serta proses transmisi ilmu lainnya dengan menggunakan style yang lebih impressif.
Dengan demikian, variasi agenda yang dikemas secara atraktif tersebut menjadi stimulan tersendiri bagi masyarakat. Sebagai bentuk keseriusan, manajemen masjid bahkan dipandang perlu membangun konsorsium yang intens dengan berbagai pihak khususnya aparatur desa untuk merancang suatu “qanun gampoeng” tentang kewajiban atas tiap individu masyarakat untuk berpartisipasi dalam ‘proyek’ keilmuan yang ditawarkan masjid. Aplikasi qanun tersebut sangat probabel jika mampu didesign secara dialogis serta sesuai dengan kearifan lokal. Dengan  demikian, harapannya, masyarakat yang selama ini belum “terbuka hatinya” untuk berpartisipasi, juga akan ikut serta dalam ‘proyek’ tersebut. Akhirnya, menyulap mesjid menjadi kampus sekaligus wahana mencari ketenangan bukanlah pekerjaan mudah semudah membalikkan telapak  tangan, tetapi diperlukan keseriusan, kekompakan serta dukungan dari semua masyarakat. Mari kita bentuk manusia unggul melalui masjid.
__________
*tulisan ini pertamakali dipublikasikan melalui PascaDunia.com sebelum berganti menjadi Aktualita.co

Komentar

Eramuslim

Postingan Populer