65 Persen Masjid Bersejarah Dipugar
Sekitar 65 persen masjid bersejarah di Kabupaten Karimun telah berubah wujud dan bentuk. Masyarakat yang akan berwisata religi bakal kebingungan melihat bukti sejarah yang dapat dijadikan sebagai patokan.
Didalam buku Khazanah Masjid Bersejarah di Bumi Berazam yang tentunya dapat dijadikan referensi atau rujukan, disitu penulis menjelaskan letak-letak masjid yang dianggap bersejarah dan memiliki cerita sejarah Melayu.
“Masjid bersejarah yang belum berubah bentuk dan masih dapat kita jumpai ada di Desa Lubuk Kecamatan Kundur, namanya Masjid Nurrahman yang berdiri tahun 1945. Bangunan masjid ini masih berbentuk papan meski sudah berlantai semen. Namun sampai sekarang masih menyimpan cerita sejarah dan masih dapat dijumpai,” kata Irwanto, penulis buku Khazanah Masjid Bersejarah di Bumi Berazam, Rabu (3/2).
Sementara, masjid-masjid lainnya, kata Irwanto, kebanyakan sudah berubah bentuk bahkan ada yang 100 persen direhab total.
Bagaimana jika pengunjung akan melihat bangunan salah satu masjid itu bersejarah atau tidak, Irwanto mencontohkan jika struktur bangunannya terbuat dari beton maka akan ada merek Alexandria, kemudian atap genteng yang didatangkan dari Perancis.
Struktur bangunan masjid ini dapat di jumpai di Masjid Al-Aqsho Kecamatan Moro, meski sudah di rehab namun sisa-sisa puing bersejarahnya masih ada dan dapat dibaca. Kemudian Masjid Al-Mubarak di Kecamatan Meral yang masih dapat dijumpai meski sudah dipugar dan berubah bentuk beberapa persen.
Sedangkan yang masih hampir lengkap sesuai wujud aslinya adalah Masjid Raja Haji Abdul Ghani di Pulau Buru.
Ada lagi satu Masjid yang masih berkaitan dengan negara tetangga Singapura, yakni Masjid Baiturrahman di Desa Penarah Kecamatan Belat. Semua bahan bangunannya didatangkan dari Singapura pada tahun 1953.
“Kalau masjid tertua di Kundur biasanya orang tua-tua dulu mengatakan adanya di Desa Kobel Kecamatan Kundur Barat bernama Masjid Nurul Iman yang berdiri tahun 1830. Disekitaran masjid terdapat makam penyebar agama Islam serta alim ulama yang dulunya sebagai pendakwah,” tuturnya.
Sampai saat ini, masjid itu masih tetap aktif dan digunakan sebagai tempat beribadah. Makam-makam yang ada masih dapat dijumpai di sekitaran Masjid. Tentunya sangat menarik untuk kita jelajahi sejarah penyebaran agama Islam di Kabupaten Karimun ini.
Ia pun mengatakan, dahulu cerita penyebaran agama Islam di Kabupaten Karimun hampir sama dengan yang ada di Tanjungpinang. Dimana kedua-duanya sama-sama bergelora dan semangat penyebaran agama Islam betul-betul membahana dari masjid ke masjid tepatnya pada abad ke 19.(http://harianhaluan.com/)
Komentar
Posting Komentar