Tragedi Tabrakan Massa di Mina
============
Mina. Sebuah nama yang memang lekat di benak jamaah haji. Di
Mina ini jamaah melakukan mabit (bermalam). Nama Mina sempat mencuat di tahun
1990 karena tragedy terowongan yang menelan korban sekitar 1400 jamaah wafat.
Kini, nama Mina kembali mengagetkan banyak orang lantaran terjadi desak-desakan
dua kelompok jamaah haji yang hendak melempar jumrah yang memakan korban.
Musibah terinjak-injaknya jamaah haji di Mina dilaporkan
terjadi sekitar pukul 07.30 waktu Arab Saudi, Kamis (24/9). Saat itu ada
rombongan tiba-tiba berhenti di jalan. Mereka didesak rombongan lain dari
belakang. Akibat panas, kelelahan dan berdesak-desakan, banyak jamaah haji
terjatuh dan terinjak-injak.
Sebelum terjadi tragedy itu, Panitia Penyelenggara Ibadah
Haji (PPIH) Indonesia di Arab Saudi sudah mengeluarkan larangan kepada jamaah
asal Indonesia untuk tidak melontar jumrah aqabah pada pukul 08.00 hingga 10.00
waktu setempat pada 10 Dzulhijjah waktu Arab Saudi atau Kamis (24/9) waktu
Indonesia. Sudah diperkirakan, di rentang waktu tersebut adalah saat paling
padat oleh jamaah haji dari berbagai negara melempar jumrah.
Tercatat 717 jamaah haji wafat dalam tragedi di Mina, tiga
dia antaranya jamaah asal Indonesia. Otoritas Saudi menyatakan tragedi ini
adalah yang terburuk dalam penyelenggaraan ibadah haji selama 2,5 dasawarsa
terakhir.
Sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (25/9),
setidaknya 863 orang luka-luka akibat kejadian berdesak-desakan ini. Peristiwa
ini terjadi saat dua kelompok besar berdesakan di persimpangan jalan saat
hendak lempar jumrah.
Foto-foto yang beredar lewat Twitter menggambarkan aparat
keamanan Saudi menangani para jamaah yang terlentang di tandu-tandu. Foto
lainnya menunjukkan mayat-mayat yang mengenakan pakaian ihram, saling tindih.
Sejumlah jenazah nampak mengalami luka-luka.
Ibadah haji yang melibatkan sekitar 2 juta jamaah kerap
menghadirkan peristiwa yang yang sulit diprediksi, begitulah Reuters
menulis, berupa desak-desakan, kebakaran, dan kegagalan ventilasi terowongan di
masa lalu. Frekuensi kejadian tersebut sebenarnya sudah menurun di tahun-tahun
terakhir. Pemerintah Saudi telah menghabiskan miliaran dolar untuk meningkatkan
dan memperluas infrastruktur ibadah haji, serta teknologi pengontrol penumpukan
massa.
Putra Mahkota Saudi sekaligus Menteri Dalam Negeri, Pangeran
Mohammed bin Nayef bin Abdelaziz, menyatakan Pemerintah Saudi langsung
membentuk sebuah komisi guna menginvestigasi tabrakan massa di persimpangan
Jalan 204 dan Jalan 223 itu. Dia meminta komite secepatnya menginvestigasi
kejadian ini. Hasil investigasi akan diserahkan kepada Raja Salman.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Saudi, Mansour Al Turki,
mengatakan desak-desakan massa itu terjadi karena ada arus massa yang mencapai
satu titik sekaligus dalam satu waktu. "Jemaah dalam jumlah besar bergerak
pada saat yang sama. Penyebab terjadinya desakan massa belum diketahui,"
kata Mansour.
Dilansir dari AFP, Jumat (25/9), kejadian ini
merupakan peristiwa besar kedua di tahun ini, setelah derek (crane)
konstruksi jatuh di Masjidil Haram Makkah pada 11 September lalu yang
menewaskan 109 orang jamaah.
Raja Arab Saudi, Salman, telah memerintahkan untuk
peninjauan dan evaluasi keselamatan kepada jamaah haji secara total. Raja
Salman memandang perlunya peningkatan manajemen pengelolaan para jamaah.
"Butuh perbaikan level organisasi dan manajemen dari pergerakan
(jamaah)," tandas Raja Salman.
Sekadar catatan, insiden besar terakhir terjadi pada Januari
2006, 364 jamaah tewas, juga saat prosesi lempar jumrah. Pada 1990,
desak-desakan terjadi di terowongan Mina setelah sistem ventilasi gagal berfungsi.
Peristiwa mengerikan ini menewaskan 1.426 jiwa, sebagian besar dari Asia,
termasuk Indonesia.
Untuk kejadian paling anyar ini, titik lokasinya berada di
luar Jembatan Jamarat yang terdiri dari lima lantai itu. Jembatan itu didirikan
10 tahun lalu dengan biaya lebih dari semiliar dolar, tujuannya untuk menjamin
keamanan jamaah.
Jembatan itu merentang hampir satu kilometer, menyerupai
tempat parkir dan bisa menampung 300 ribu jamaah selama satu jam.
Tahun ini, menurut keterangan yang dikeluarkan pada Kamis
(24/9) oleh pejabat terkait, ada 1.952.817 jamaah yang mengikuti ibadah haji.
Jumlah itu termasuk lebih dari 1,4 juta warga negara dari luar Saudi.
Belum ada keterangan pasti ihwal identitas kewarganegaraan para
korban tewas dalam kejadian di Mina. Meski begitu, pihak Turki menyatakan
sedikitnya ada 18 warganya yang dilaporkan hilang. Laporan lain menyebutkan sebagian
besar korban yang wafat adalah jamaah yang berasal dari Afrika.
Dari Tehran, Iran, pejabat setempat menyatakan otoritas haji
telah menutup dua jalur dekat lokasi insiden. "Ini menimbulkan insiden
tragis," kata kepala organisasi haji Iran, Said Ohadi. Pemimpin tertinggi
Ayatollah Ali Khamenei pun menyatakan pemerintahan Saudi harus menerima
tanggung jawab besar dari bencana ini. Iran kehilangan 95 jiwa warganya.
Dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, dikabarkan
tiga warga negara Indonesia (WNI) menjadi korban tewas dalam musibah yang
terjadi di Mina tersebut. Kepastian jumlah korban tersebut diperoleh langsung
dari Wakil Duta Besar RI di Arab Saudi, Sunarko.
"Kami baru meninggalkan RS Al Jisr Mina bersama Menteri
Agama dan Dirjen Haji, untuk mengetahui kondisi dan situasi korban. Sampai
pukul 16:00 waktu Arab Saudi, dapat diidentifikasi tiga WNI jamaah haji meninggal dunia akibat musibah di Mina,"
jelas Sunarko, melalui Direktorat Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI.
Dua WNI yang diketahui identitasnya adalah Hamid Atuwi
(laki-laki) asal Surabaya, dan Saiyah (perempuan) asal Batam. Adapun korban
tewas ketiga adalah jamaah laki-laki yang belum diketahui namanya. Jenazah
ketiga sulit diidentifikasi karena tidak ada gelang identitas di tangannya.
Namun, berhasil diketahui bahwa korban berasal dari Probolinggo, yang menggunakan
Safari Travel. Data korban tersebut sedang dicek lebih lanjut di data haji.
Sementara itu, ada satu korban asal Indonesia kondisinya
masih kritis hingga saat ini. Korban tengah mendapat perawatan di Rumah Sakit
Annur, Mekkah. Dengan demikian, jumlah WNI yang menjadi korban musibah di Mina
mencapai empat orang. (NB)
Kesaksian Nenek 74 Tahun Asal Cimahi
Inne Badriani Erawati, seorang nenek berusia 74 tahun asal
Cimahi, Jawa Barat, mengaku bersyukur bisa melewati kepadatan jamaah yang
melempar jumrah di Mina. Ia melihat sejumlah orang jatuh kecapaian dan pingsan
karena berdesakan.
"Susah payah pulang ke tenda. Di jalan ada saja orang
yang jatuh kecapaian, atau pingsan. Mungkin terjepit juga, tapi belum terjadi
kecelakaan itu," kata Erawati seperti dilaporkan BBC Indonesia,
Kamis (24/9).
Bersama rombongannya, Erawati berangkat melempar jumrah
sejak subuh. Suasananya belum padat oleh jamaah. "Sesudah melempar jumrah,
ya tunailah rukun haji. Bersama sesama jamaah serombongan, sekitar jam sembilan
pagi itu, kami memutuskan pulang saja ke tenda karena sudah sangat padat,
berdesakan," tutur dia.
"Sempat saya lihat, ada orang Indonesia dirawat dokter
di pinggir jalan, juga seorang Arab," katanya lagi.
Erawati belum tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya
karena belum mendapat instruksi atau pemberitahuan apapun dari pimpinan
rombongan. "Ya, kami menunggu saja dulu, di sini," ujar Erawati. (*)
Komentar
Posting Komentar