Menjadikan Keuangan Masjid yang Transparan dan Akuntabel


Apriyanto mengeluhkan laporan keuangan masjidnya yang terkadang hilang atau rusak. Pembukuan keuangan masjidnya yang dilakukan secara manual menjadi salah satu penyebabnya. Padahal, laporan keuangan inilah yang mesti dipertanggungjawabkan kepada jamaah masjid.

Wakil Ketua Pengurus Masjid Al-Muttaqin Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat, ini mengaku sangat terbantu dengan adanya laporan keuangan masjid secara online yang bisa diinput secara digital, tidak lagi mengandalkan media kertas.

Menurut Apriyanto, pembukuan secara digital membuat keleluasaan mengakses laporan keuangan masjid. Hal ini menghindarkan prasangka negatif yang tak jarang timbul dari jamaah sendiri. "Program ini sangat membantu pengurus transparan dalam menyampaikan laporan," kata Apriyanto di sela-sela acara "Pelatihan Akuntansi Masjid" di Masjid Agung Nurul Iman, Kota Padang, Sumatra Barat, Sabtu (17/12).

Dengan pembukuan secara digital, menurutnya, data keuangan masjid menjadi lebih tertata dan terarsip dengan rapi. Kendati, Apriyanto juga mengeluhkan kurangnya tenaga masjid yang masih muda. Hal ini menjadi kendala untuk mengaplikasikan program ini.

"Karena ini baru dan tenaga masjid terbatas, jadi agak sulit, tapi kalau sudah dilatih tinggal kebiasaan, nanti juga bisa," kata Apriyanto. Ke depan, ada pendampingan lagi bagi pengurus yang mengalami kesulitan mempraktikkan aplikasi akuntansi ini.

Yeni Savitri, pengurus Masjid Muhammadiyah Teluk Bayur, Kota Padang, menilai pelatihan akuntansi ini sangat dibutuhkan pengurus masjid. Pencatatan keuangan secara digital mempermudah pengurus saat melakukan pembukuan.

Selama ini, kata Yeni, pencatatan keuangan di masjidnya dilakukan secara manual. "Cara ini (pencatatan digital) lebih praktis dan sederhana," kata Yeni. Meski terbilang baru baginya, Yeni menilai cara ini tidak terlalu sulit untuk dipelajari.

Menurut Casmiwati, pembina di Masjid Hadiqotul Iman, Tunggul Hitam, Kota Padang, pelatihan akuntansi masjid perlu untuk membantu pengurus menyampaikan laporan keuangan secara terbuka dan bertanggung jawab kepada jamaah masjid. Sebab, melalui aplikasi ini, tidak hanya pengurus, semua laporan keuangan juga bisa diakses oleh pihak luar.

"Kita bisa saling terbuka dengan jamaah," kata Casmiwati.

Acara Pelatihan Akuntansi Masjid ini merupakan hasil kerja sama Republika dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Institut Akuntansi Masjid (IAM) Keluarga Besar Masjid Baitul Mal (MBM) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Acara digelar di Masjid Agung Nurul Iman, Kota Padang, Sumatra Barat, Sabtu (17/12).

Pelatihan ini bertujuan untuk memudahkan masjid menyampaikan laporan keuangan secara transparan dan akuntabel kepada jamaah masjid. "Pencatatan keuangan penting untuk semua instansi, termasuk masjid, supaya bisa memberikan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan kepada masyarakat," kata Wakil Ketua IAM MBM STAN, Tunggal Nakula Sasongko, Sabtu (17/12).

Tunggal melihat sudah ada masjid yang mulai memperbaiki pencatatan keuangan mengingat saat ini sudah banyak aktivitas masjid. Tetapi, tidak dapat dimungkiri masih banyak pula masjid yang abai soal ini.

Dalam pelatihan ini, para pengurus masjid diperkenalkan dan diajarkan dengan aplikasi akuntansi perangkat lunak ciptaan IAM MBM STAN yang diberi nama Application World Wide. Data yang sudah diproses melalui platform ini nantinya dapat diakses oleh publik atau pihak yang berkepentingan dengan masjid.

Sesudah mengikuti pelatihan ini, Tunggal berharap masjid-masjid bisa menerapkan aplikasi sehingga memudahkan mereka melakukan pencatatan keuangan. Ke depan, akan ada dukungan jarak jauh melalui media sosial atau kunjungan untuk memberikan pelatihan langsung ke masjid.

Jika aplikasi ini bisa diterapkan oleh seluruh masjid, pencatatan keuangan masjid di seluruh Indonesia bisa berada dalam satu standar. "Konsolidasi keuangan masjid pun akan bisa dilakukan," kata Tunggal.

Dukungan LPS

Mohamad Ryan Firmansyah dari Sub Manager Group Akuntansi dan Anggaran LPS mengatakan, transparansi dan akuntabilitas keuangan masjid bisa dilakukan dari pelatihan akuntansi masjid ini. Transparansi keuangan masjid akan menjadikan pengelolaan keuangan masjid dipercaya oleh masyarakat.

Apalagi kalau dana masjid yang berasal dari masyarakat itu kemudian disimpan di perbankan syariah. "Menyimpan dana masjid di bank akan membuat para jamaah merasa aman menyumbangkan uangnya ke masjid daripada hanya di kotak amal yang lebih rentan dengan pencurian uang," kata Ryan.

Seandainya dana-dana masjid ini dikelola atau disimpan secara syariah secara terus-menerus akan meningkatkan kualitas perbankan syariah yang saat ini porsinya juga masih kecil.

Untuk itu, Ryan mengatakan, penting adanya sosialisasi dan penyadaran kepada pengurus masjid untuk menyimpan dana masjid di bank syariah. "Jika sudah ada kesadaran untuk menabung di bank, otomatis stabilitas perbankan atau lebih luasnya adalah stabilitas perekonomian menjadi lebih baik," kata Ryan.

Ketua Pengurus Harian Masjid Agung Nurul Iman, Mulyadi Muslim, menyambut baik pelatihan yang dihadiri oleh puluhan pengurus masjid se-Padang ini. Menurut Mulyadi, pelatihan ini dapat membantu pengelolaan keuangan masjid secara lebih modern.

"Jika manajemen masjid bagus, apalagi soal keuangan, maka semua permasalahan bisa diselesaikan," kata Mulyadi saat membuka acara.

Mulyadi mengakui, pelatihan akuntansi masjid masih sangat jarang diadakan, khususnya di Kota Padang. Ia menilai pelatihan ini sebagai salah satu cara untuk mengokohkan masjid sebagai sentral kegiatan umat.

Menurut Mulyadi, masjid seharusnya bukan hanya dijadikan untuk tempat shalat, melainkan juga pusat kegiatan yang juga menjadi ujung pangkal dari sebuah perubahan.

Mulyadi berharap pelatihan ini tidak hanya berhenti sampai acara ini. "Saya berharap ada pendampingan untuk memastikan ilmu yang didapat dari pelatihan ini dapat teraplikasikan dengan baik," kata Mulyadi.

Wakil Pemred Republika Nur Hasan Murtiaji berharap materi pelatihan ini bisa langsung diaplikasikan oleh para peserta di masing-masing masjid. Teraplikasikannya akuntansi dalam pengelolaan keuangan masjid akan menjadikan keuangan masjid transparan dan akuntabel.

"Karena transparan, jamaah atau bukan jamaah bisa mengakses bagaimana penggunaan dana kelolaan masjid. Untuk apa saja pengeluarannya, semua orang bisa mengetahui," kata Hasan.

Adapun pengertian akuntabel akan menjadikan keuangan masjid dapat dipertanggungjawabkan. "Jamaah atau bukan jamaah bisa mengetahui penggunaan dana masjid ke mana saja," ujar Hasan.

Semakin banyak masjid yang mengaplikasikan sistem akuntansi ini maka kian memudahkan dalam melakukan konsolidasi keuangan masjid. Misalkan dalam satu wilayah sudah banyak yang menggunakan aplikasi akuntansi masjid, maka akan mudah terpantau berapa total dana sumbangan untuk masjid di wilayah tersebut. Termasuk juga bagaimana penggunaannya.

"Kita pun bisa 'menuntut' masjid tersebut jikalau penggunaan dananya ternyata tidak berdampak signifikan terhadap pemberdayaan masyarakat sekitar masjid, padahal dana yang dikumpulkan dari jamaah jumlahnya tidak sedikit," jelas Hasan.

Bila itu yang terjadi, berarti fungsi masjid masih sebatas sebagai pengumpul dana, tapi belum bisa berperan sebagai pemberdaya masyarakat sekitar. "Padahal, masjid bukan hanya sebagai tempat ritual ibadah, melainkan juga berperan sebagai pusat aktivitas Muslim."     Oleh Retno Wulandhari, ed: Nur Hasan Murtiaji/http://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/16/12/18/oidcs63-menjadikan-keuangan-masjid-yang-transparan-dan-akuntabel

Komentar

Postingan Populer